Hidden Treasure of Yogyakarta! (Part 1)

Hello Folks! Merry Christmast for those who celebrate it.. May the joy and peaceful always in our world..

Hehe.. ngomong-ngomong soal natal yang pasti deket tahun baru pasti pada siap-siap untuk liburan dong yaa! same with me, beberapa hari sebelum Natal saya bareng keluarga pergi ke Jogja. Sebenernya saya udah punya janji sebelumnya sama sahabat saya untuk pergi ke jogja awal tahun 2012, tapi apadaya, papa saya ngajak duluan dan memaksa… So I have to cancelled my appointment with my besties.. Sorry ladies.. :(

Yogyakarta or maybe well-known as Jogja. For me, Jogja is always fascinated me with their culture, their tourism, keraton, etc. Jogja always made me want to come back, even so I’ve been there more than 5 times! hahahhaa… Jogja is always special to me not only because of  the natural tourism they have, but the government who is also the Keraton is VERY serious about this city. They build the accomodation, good  public transportation, and also access to tourism object nearby.

For you who has been to Jogja or never before, maybe you would say some of famous object tourism in Jogja like Keraton, Malioboro, Prambanan, Parangtritis, Borobudur (even it’s located in Magelang), and so on.. In my last holiday, my dad decide not to go to those place simply because we’ve already seen that in our past holiday. So first we decide to go some place we’ve never been before.

Day 1

We arrived in Jogja about at 6 PM. We haven’t had decide where to stay in Jogja. So we started to search hotel around Malioboro, and it’s really a bad timing! because it’s already a beginning of peak season the rate is already climbed up. And there’s a time when we found KAHA tour, tour who also selling hotel voucher so the buyer can get discount 20-40 percent from the published hotel rate. So we decided to use KAHA service and for this night we stayed at Amaris Jogja which is located at Jl. Dipenogoro closed to Tugu statue. FYI, the amaris jogja is a really nice place to stay, it is clean and comfy. You can see the review on tripadvisor .

Day 2

Karena kita cuma dapet semalem doang di amaris, jadi kita sekeluarga balik lagi ke KAHA unutk cari hotel untuk tinggal semalem lagi di jogja. Waktu di KAHA ini saya ketemu sama ibu-ibu yang nyaranin kita untuk dateng ke Goa Pindul. Goa? sounds boring ya. Jujur, saya pribadi ga terlalu suka pergi ke gua. Tapi,si ibu strangers ini bilang, ini gua dialiri air tanah,jadi kita bisa menjelajahi sungai di gua ini pake ban. Ban? serius lo? hahaha. Si ibu ini juga bilang, tempat ini belum terlalu dipromote,jadi masih sepi. Tapi udah tertata dengan baik. Jadilah atas saran ibu ini kita menambah itinenary kita yang tadinya hari ini cuma pengen ke pantai di gunungkidul, kita juga dateng ke goa pindul yang kebetulan masih di daerah gunungkidul.

Goa Pindul

Ternyata, perjalanan ke goa ini cukup memusingkan, folks! Hanya berbekal google maps, kita berangkat dari Jogja ke desa Bejiharjo, gunung kidul. Goa Pindul ini terletak di Desa Bejiharjo kawasan Gunungkidul. Perjalanan dari Jogja ke Gunugkidul amat baik, jalanan sudah beraspal mulus. But, masalahmuncul gara-gara nggak ada papan penunjuk jalan dimana si goa pindul ini berada. Karenakita udah nanya-nanya orang pada nggak tahu, kita memutuskan untuk ngikutin google maps. Sampai akhirnya we’re stranded in the land of nowhere. Kita masuk ke jalan desa yang boro-boro diaspal, jalannya cuma batu-batu yang ditambal pasir (apa pasor ditambal batu ya?) liat rumah-rumah disekitar sini, yang satu dan yang lainnya berjauhan, jadi inget sama film Sang Penari dimana rumah-rumah bilik joglo masih ada di desa ini. Mau nanya, serem juga.abis rata-rata orang disini bawa clurit (lebay lo kha.. mereka kan bawa clurit gara2 baru pulang dari kebun). Akhirnya kita terus ikutin jalan. Karena takut nyasar, kita tanya ke penduduk setempat, dan beliau kasih tahu kalau mau kedesa bejiharjo tinggalikutin jalan nanti ketemu jalan aspal. Setelah melewati jalan yang kita sendiri nggak tahu dimana, sampailah kita di Goa pindul.

ready for tube caving. yay!

Sesampainya di goa pindul, ga begitu banyak orang yang dateng kesini, saya cuma nemu beberapa grup kecil, ada turis arab, dan beberapa turis lokal. Ternyata di objek wisata ini, ada beberapa objek wisata, yaitu goa pindul, goa gelatik, dan sungai Oyong. Goa-goa ini tebentuk sebagai ciri karst, dimana gunung kidul kan emang strukturnya batuan kapur jadi ya terbentuk deh karst-karst alami berupa gua-gua.

say bye to the light!

Ticket price to enter Goa pindul is only IDR 30.000 it’s include insurance, and rubber shoe. There’s another package which we can explore goa gelatik (more difficult, we should creepin to enter the cave) and Sungai Oyong (rafting). So what’s so special about Goa pindul? As far asI can see before I entered the cave, it looks the same as Green Canyon in ciamis, West java (I’ve alreday wrote about this in my blog). But the differences are the water here is relatively calm. And we used a tube to explore this cave. Tube. Yes! its tube, a.k.a ban karet yang dibawahnya sudah dipasang tali-tali agar kita nggak tenggelam. Kedalaman sungai bawah tanah ini cukup dalam, antara 1 meter hingga 1meter. Didalam gua ini terdapat stalagmit dan stalagtit yang beberapa diantaranya masih aktif. Usut punya usut, ternyata objek wisata ini dikelola sendiri loh oleh warga setempat dari dana PNPM mandiri, bekerja sama dengan perseorangan yang keturunan chinese dari jogja yang memiliki tanah diatas goa ini.

turn off the light, and it’s totally a blackout!

kayak lagi ngelakuin ritual ya?

Secara umum, goa pindul ini sangat menarik. I felt more safe than when I explored green canyon. Kita itnggaldateng, duduk di ban, mau foto? kameranya dipegangin sama pemandunya, jadi kita tinggal gaya doang. hehehe… pemandunya juga baik dan ramah. Perjalanan di goa pindul ini terkesan santai sekali gara-gara si pemandunya selalu mencoba unutk bercanda, walaupun garing. Lain kali, saya mau datengkesini lagi tapi mau mencoba explore goa gelatik dan sungai oyong.

the exit.. see the water, it’s really beautiful!

Gunungkidul’s beaches

After having fun at Goa Pindul, we’re back to the plan. Now it’s time for… BEACH TIME!! maklum, orang gunung, jadi kalo kepantai pasti semanget :) . Banyak pantai yang ada di kecamatan Tepus, kawasan Gunung Kidul ini. Misalnya saja, Pantai Indrayanti, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Baron, Pantai Siung, dan Pantai Wediombo. Berbeda dari pantai-pantai yang ada di bantul, seperti parangtrirtis, pantai-pantai di Gunung Kidul rata-rata masih virgin alias belum banyak orang yang dateng kesana. Pasir putih, dan bebatuan yang indah bikin pantai-pantai di gunung kidul ini sangat spesial. Cuma satu nih, yang namanya pantai laut selatan yang langsung berbatasan dengan Samudera hindia, pasti ombaknya sangat tinggi dengan arus yang  cukup kencang. Jadi saya sih ga pernah berani berengan di pantai-pantai laut selatan. Takut cyinn. hehehehe. saya cuma datang ke pantai Indrayanti, Sundak, dan Baron. Selain pantai ini saya nggak sempet  untuk singgah karena waktu yang terbatas.

 Pantai Indrayanti / Indrayanti Beach

Indrayanti? beneran nih nama pantai? kok kayak nama orang ya? hehehe kalau kamu curiga ini nama orang, kecurigaan kamu benar. Sebenernya nama pantai ini pantai Sediung / pantai pulang syawal (kalo ngga salah). Nama Indrayanti sendiri adalah nama pengelola swasta di pantai ini yang membangun penginapan dan restoran yang berupa  gazebo. Begitu kita sampai di pantai Indrayanti, kita disuguhkan restoran pinggir laut dengan pemandangan yang indah dengan harga yang terjangkau. Kalau dilihat-lihat sih kayak jimbaran di Bali gitu, versi lebih mini.

Pantai Indrayanti ini masih tegolong relatif sepi dan bersih. Pasirnya yang putih, diapit dengan bebatuan besar di samping pantai, pokoknya ini bener-bener pas untuk menyepi sambil liat pemandangan yang indah. Kalau kamu lihat ke sekeliling pantai, pantai ini bersih banget, nggak ada sampah. Ternyata, si pengelola memang melarang keras para wisatawan untuk membuang sampah sembarangan, kalau ada yang buang sampah, denda 10.000!

white sands..

saya di antara celah bebatuan. nampang yee :p

kalau saya ada waktu untuk kesana lagi, saya pengen sekali nyoba nginep di pinggir pantai. Pasti romantis-unyu-gimana-getoh tidur sambil dikelonin deburan ombak. FYI, harga penginapan gazebo disini IDR 300.000 per malam.

cantik ya?

Pantai Sundak

Sebelum saya ke indrayanti, sebenernya saya mampir ke pantai sundak dulu. Pantai ini nih, yang beberapa hari yang lalu ada di Happy Holiday Trans 7. Asal usul nama “Sundak” ini berasal dri kata “asu” atau anjing dan “landak”. Katanya di pantai ini si asu dan landak ini bertemu. Berbeda dari pantai Indrayanti, Pantai Sundak jauh lebih sepi, dimana hanya ada beberapa warung penjual makanan dan minuman konvensional yang hanya menjual makanan dan minuman ringan.

left side of sundak beach

sisi sebelah kanan pantai sundak

Sebenarnya, saya masih pengen menikmati pesona pantai sundak yang sepi dari keramaian. malah pengen nikmatin sunset yang katanya bagus kalau dilihat dari pantai ini. Tapi apadaya, perut sudah keroncongan, jadi kita ke Pantai Indrayanti unutk cari makan. Goodbye Sundak, I hpewe’re gonna meet again :)

Ga pengen pegi rasanyaa :)

Ok, nanti saya lanjutin l;agi ya ke Part II ! See ya and happy holidayyyy

you know me so well

Jadi, hari itu gue lagi stres-stresnya gara2 abis kena marah dosen pembimbing. Jadilah, sore itu gue ketemu sama pacar dan curhat lah gue sama dia.

Me: *pasang tampang sedih dan nangis*
Pacar: udah, jangan pake nangis, aku tau kamu nangis biar dramatis *poker face*
Me: hahahaha kamu, tau aku banget ya!

Thanks for keeping me to be me. Just me. (:

Sweetness of him (1)

Tidak ada yang lebih manis daripada lelaki yang mau mendengarkan mimpi-mimpi kamu, tak peduli segila dan setidak-mungkin apa, dan tiba-tiba dia berkata: ‘I’m in!’

Wanita punya pilihan?

Wanita. Siapa yang wanita diantara kalian tunjuk tangan!! Yang merasa sekarang sudah jamannya emansipasi juga tunjuk tangan!!
Hehehe. Daan siapa yang punya contoh konkret dari emansipasi itu tunjuk tangan lagi!!
Untuk yang kali ini, saya tunjuk tangan. Dari judul cerita kali ini, sudah jelas bahwa saat dimana wanita punya pilihan itu adalah contoh dari emansipasi. Tapi pilihan yang bagaimana sih?

Oke, memang contoh yang saya angkat kali ini bukan ‘pilihan’ yang mungkin bagi sebagian orang itu besar. Dan saya juga cuma mengambil contoh dari iklan yang gak sengaja saya lihat di TV. Iklan apa sih?

Pernah liat iklan testpack, tapi instead of testing if you’re pregnant or not, it tested your fertility. So the idea is every woman (married or not) who wants to have sex can test her fertility in advance to choose have a sex ir not have to, or maybe yeah do somethin that won’t make she pregnant. The end of the ads is there’s a tagline : “Karena wanita punya pilihan”.

Yes. Every woman have a choice. But in this case, for me it’s a concrete examples. Karena selama ini, wanita cuma bisa nerima-nerima aja. Wanita harus punya pilihan untuk mengetahui dirinya sendiri. Maksud tulisan saya disini bukan untuk mendukung penjualan si ‘fertility testpack’ apalagi untuk digunakan sama orang2 yang belum menikah. For me, it’s their own choices to have sex or not. And my own choices is not to do it, until I get married. Karena wanita punya pilihan kan? :)

I (hate) your Blackberry

I (hate) your blackberry when it pings all the time

I (hate) your blackberry when you tweet too much

I (hate) your blackberry when you stop texting me

I (hate) your blackberry when you seems like a tweet-attention-wh*re on twitter

I (hate) your blackberry when it show some emoticon I can’t read

I (hate) your blackberry when you keep complaining about delayed network

I (hate) your blackberry which is look the same with other Blackberries

I (hate) your blackberry because it makes you so typical, like everyone else.

Kamu itu kesayanganku yang unik. Bagaimana membedakanmu dengan mereka kalau kamu seperti itu?

-Esty Puspitasari

P.S.

Thanks for the beautiful quote, @estyjumi. Sorry I’m not asking ur permission. :D

life in a movie

A movie! That’s your problem! You don’t want to be in love. You want to be in love in a movie!

Sleepless in Seattle

Well, who likes movies? oh, maybe I should change it to be : Who doesn’t? But how many of you when watching movies feeling like you’re really in to it? Or perhaps, you gone too far and imagine it it was you in that movie?

So, I was watching some Korea movie with my mom, ‘Winter Sonata’. Like other sad korean movie, we cried almost in every scene with the sad backsound playing. So this movie came out with a story of two handsome man who in loves with the same woman. The woman couldn’t make a decision, because one of them is her true love, but the other is her bestfriend since childhood. While I was watching the scene when the girl is forced to choose between one of them, my dad came. And said ” What kind of a girl is she? she must be playing with both of them!” And, my dad sayings really make us angry. He destroy our ‘romantic imaginary’ about how true love is hard to get.

But then I think again, what my dad said to me was right. Well, If it really happened in a real life, I would tell that kind a girl is really mean and yet stupid. But contrary, in a movie I assumed it was okay as long as the main role fight for her first love.

It’s funny how people can appreciate a story in a movie an take it as a romantic story, like a bestfriends who secretly in love with each other and in the end of the movie they dumped their boy/girlfriend. But it’s really funny too when that kind ‘tragedy’ happened with you, or your friend, you’re gonna call them as a real jerk, a heartless asshole.

So, do you still want to  have a life like in a movie?

P.S. Forgive about my grammar. I haven’t writing in english like a million years. :p

Thai Palace Restaurant Bandung (review)

Post pertama saya tentang tempat makan! lumayan buat yang pada bingung ntar mau buka puasa dimana… hehehe

Thai Palace Restaurant

Sebenernya, saya ke resto ini udah dari seminggu yang lalau. karena eh karena mood buat ngeblog-nya baru muncul hari ini, saya baru sempet nulis sekarang.

I’m a big fan of sour and spicy food!! Makanya begitu si pacar ngajak saya nyoba tempat baru,  saya semangat banget buat nunjuk ke tempat yang letaknya di Jl. Dago (seberang Sheraton Hotel). Sebenernya, tiap saya lewat ke jalan dago, saya udah sering banget liat tempat ini. Penasaran pengen kesini, tapi takut mahal. Walhasil, karena waktu itu ngebet banget pengen masakan thailand, dan waktu itu juga saya lagi ulang tahun, makanya saya tunjuk tempat ini buat dinner pas ultah saya. he he he :D

Pas pertama kali masuk, tempatnya agak sepi.. belom terlalu banyak pengunjungnya. cuma ada sekumpulan bapak-bapak sama ada pasangan yang ternyata adalah Paquita Wijaya dan Duncan Sheik (baru nyadar setelah pulang dari sana), tau gitu minta foto yah!!! hehehe. Namun, setelah berapa lama kita disana, ternyata mulai banyak orang yang berdatangan, dan rata-rata pegawai kantoran.

Ga pake lama, saya langsung main tunjuk menu-menu yang keliatannya aduhei enak banget. Tapi, bukan ke resto thailand namanya kalo ga makan Tom Yam Goong (Sup seafood pedas). Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, kita pesen 2 menu maincourse, yaitu Tom Yam Goong dan Ikan Kakap tim lemon. Dan diluar perkiraan, porsinya GUEDEE banget. itu satu menu, bisa muat buat porsi ber-4 sampai ber-5.

Tom Yam Goong. Rp. 69.900

Ikan kakap tim lemon. Rp 69.900

Ngiler gaak liat makanan diatas?? gak nyesel deh kalau ngiler. emang aslinya, dua menu diatas itu ENAK banget. real authentic thai cuisine deh pokoknya, sebelum-sebelumnya saya suka pesen makanan thailand bukan di resto thailand, dan rasanya emang beda.. Terakhir saya pernah coba masakan thailand yang bener-bener di resto thailand itu waktu di Singapore, dan rasanya beda, tapi sama-sama enak. Harga boleh mahal, tapi porsinya, gede banget, Jadi sebenernya kalo datengnya borongan, keitung murah.

Untuk minumannya, si pacar mah standar. Di tiap restoran hampir pasti kalo ga ngopi, hot chocolate. Jadi ga ada yang menarik. Nah kalo saya, orangnya suka tantangan. Tantangan nyoba menu baru, hahaha. Akhirnya, saya pesen Spicy Chatucak, yaitu semacam sop rujak buah yang pedes, isinya ada semangka, melon, strawberry, dan parutan mangga muda. Seger deh.

Spicy Chatuccak Rp. 19.900

Overall, menurut saya resto ini recommended deh. Kalo lagi stress dan butuh makanan yang pedes-pedes dateng aja kesini. Tapi, saya lebih menyarankan kalo dateng kesini rame-rame, soalnya porsinya gede. Kalo berdua jangan harap bisa [pulang dengan perut nyaman. Karena pasti kekenyangan! saya aja yang hobi makan perlu waktu sejam buat ‘nurunin’ makanan, hehehehe….

Range harga:

Makanan : Rp. 30.000-70.000

Minuman :Rp. 13.000-20.000

TRANS STUDIO Bandung (review)

Kemarinn nih, tepatnya Jumat 1 Juli 2011, saya sama adik-adik saya pergi ke TransStudio Bandung, di Bandung SuperMall.

Trans Studio bandung ini merupakan indoor theme park terbesar di  dunia, tapi ga segede yang dibayangkan oleh kita sih, hehehehe. Kita berangkat pukul 13.30 dari rumah (soalnya rumah kita deket banget.. hehehehe) Sesampainya di Trans Studio, kita buru-buru ke ticket counter di lantai 2 BSM.

Mega Cash Card

Sesampainya disana, kita disuruh pergi ke Mega Cash top-up di foodcourt BSM, katanya di ticket counter ini terlalu rame. Untuk pembelian ticket trans studio, kita harus menggunakan kartu Mega Cash. Untuk harga tiket Trans Studio sendiri, harganya Rp. 150.000 untuk hari Senin-Jumat, dan Rp. 200.000 untuk weekend. sedangkan harga administrasi kartu ini Rp. 10.000 dan kartu ini bisa dibawa pulang. Perbedaan dari kedua tempat ini adalah gambar kartunya, kalau kita beli di ticket counter akan mendapat kartu bergambar trans studio, sedangkan kalu di tempat ini bergambar BSM pass.

Nah kartu ini punya fungsi sama seperti uang tunai, jadi kalau kita ingin bertransaksi beli merchandise, minuman/ makanan di merchant-merchant di dalam trans studio, kita harus memakai kartu ini. Kartu ini bisa diisi ulang di top-up counter (di dalam atau di luar trans studio) dan di Bank Mega. Kartu ini juga bisa di refund kembali, dengan cara mengambil di ATM Bank Mega sesuai kelipatan yang tertera di ATM tersebut, atau lewat refund counter yang terletak di foodcourt, persisnya di sebelah CFC, di refund counter ini kita bisa menukarkan hingga kelipatan 1000 rupiah.

VIP Access

Di trans Studio ini juga banyak tersedia counter-counter penjualan VIP Access, dimana pengunjung harus membayar biaya tambahan sebesar Rp. 200.000. Keuntungan dari VIP Access ini adalah penggunanya tidak perlu mengantri untuk menaiki wahana-wahana yang ada (yang menurut saya agak-agak diskrimanasi). Contohnya aja, jika kapasitas wahana 16 orang, maka dari antrean VIP akan diambil 10 orang. Sedangkan dari antrean reguler diambil 6 orang. Dan hal ini menyebabkan antrean panjang di antrean reguler, sedangkan antrean VIP  bisa masuk dan bermain dengan mudah dan cepat. Sebagai perbandingan, saya mengantri wahana negeri raksasa selama 3 jam, sedangkan VIP access hanya membutuhkan maksimal 15 menit. :(

Wahana TRANS STUDIO BANDUNG

Karena kita baru dateng jam 13.30 (lagi penuh-penuhnya) kita sempet kebingungan mau naik wahana yang mana, soalnya antreannya panjang semua. belum lagi, kita nggak pake tiket VIP, jadi harus rela antre berkepanjangan. Untuk masuk ke satu wahana di Trans Studio ini, dibedakan antara VIP access dan tiket reguler. Dan menurut yang saya lihat, akses untuk VIP begitu jelas dapat terlihat, sedangkan akses untuk tiket reguler tidak terlalu terlihat sehingga kita sampai bingung harus masuk lewat mana. Grrrrrr X-(

transStudio

Wahana di Trans Studio ini sebenarnya (menurut website dan guide map) ada 20 wahana yang terbagi atas tiga  area yaitu Studio Central, The Lost City, dan Magic Corner. Disini, saya hanya akan menulis 7 wahana yang saya coba saja, yaitu Yamaha Coaster, Giant Swing, Vertigo, Trans Broadcast Museum ( Studio Central area), Jelajah (The Lost city area), dan Negeri Raksasa, Dunia Lain (Magic Corner area).

Negeri Raksasa

Wahana ini jadi wahana pertama yang saya coba. Wahana ini mirip dengan wahana Hysteria di Dunia Fantasi. Untuk menaiki wahana ini saya harus rela antri 3 JAM. bayangkan, TIGA JAM! dan hasilnya, mengecewakan. Kalau dibandingkan dengan Hysteria, jauh lebih mengasyikkan Hysteria. Sensasi ‘lepas’ dari kursi tidak saya rasakan di wahana ini, seperti halnya yang saya rasakan di Hysteria. Dan yang lebih membuat hati menjerit adalah, akses untuk VIP turnovernya begitu cepat, ada yang baru mengantri 5 menit bisa langsung menaiki wahana ini. Maklum, dari kapasitas 16 seat, 10 diambil dari VIP access dan 6 dari tiket reguler (kebayang kan perbedaannya?)

Giant Swing

Wahana ini merupakan wahana kedua yang saya coba (dan lagi-lagi) saya harus mengantre. Tapi turnover antrean wahana ini tidak selama negeri raksasa, saya menaiki wahana ini setelah antre selama kurang lebih 1,5 jam. Wahana ini menurut saya cukup mengsyikkan, karena diayun-ayun hingga serasa akan menyentuh atap Trans Studio. Dan yang mebuat Giant Swing berbeda dari wahana yang mirip seperti Kora-Kora (Dunia Fantasi), wahana ini selain di ayun juga diputar. Secara garis besar, wahana ini jauh lebih menantang dibanding Kora-Kora (Dunia Fantasi), namun tidak seekstrem Ranger (Wisata Bahari Lamongan).

Yamaha Coaster

Untuk wahana ini, saya memberikan 4 jempol. Wahana ini merupakan wahana terekstrem di Trans Studio. Wahana ini diklaim merupakan roller coaster tercepat di dunia dan hanya terdapat 3 buah di dunia, yaitu dua di Amerika dan satu lagi di Trans Studio. Turnover antrian wahan ini sangat cepat, saya hanya butuh waktu 45 menit unutk mengantri. Entry point (Trans Studio menyebutnya loading deck) wahana ini terdapat di dalam trans studio, sedangkan relnya terdapat diluar Trans Studio (outdoor). Sebelum menaiki wahana ini, segala peralatan yang ada di tubuh kita (kecuali baju dan sepatu, hehehehe) harus dilepas, misalnya kacamata, jam tangan, hingga kalung. Mungkin untuk mengantisipasi barang-barang ini terlepas atau dapat menyakiti penumpang.

Penampakan Yamaha Coaster dari luar

Dari awal wahana ini sudah melaju dengan sangat kencang, hingga kita berteriak dari awal hingga akhir wahana ini berakhir. The best part is, kita meniki wahana ini selepas maghrib. Suasana night ride begitu menambah ketegangan wahana ini, kita bisa melihat lampu-lampu di gedung terdekat yang belum selesai dibangun :) . Adik saya ketika dibawah sampai bilang bingung saat dia ada dibawah atau diatas. Apalagi ketika rel meliuk-liuk dan lalu meluncur naik dan meluncur dengan mundur, itu benar-benar sangat menegangkan. Keluar dari wahana ini saya sampai merasa kleyengan,tapi tetep excited. Menurut saya dan adik-adik saya, wahana ini merupakan wahana terbaik di Trans Studio.

Vertigo

Wahana ini persis sama seperti wahana Kicir-Kicir di Dunia Fantasi. Cukup menegangkan, tapi karena sudah sering menaikinya, jadi saya merasa nothing special about it. Beruntungnya, saya tidak perlu mengantri menaiki wahana ini, karena menuju malam wahana ini sudah tidak ada yang mengantre.

Dunia lain

Untuk wahana ini, kita harus mengantre sekitar 1 jam. tapi saya tidak bisa meulis banyak, karena sepanjang kereta berjalan saya full menutup mata. hehehehehe tetapi hologram yang sempat ditayangkan di ceriwis, juga tidak terlihat muncul saat saya dan adik-adik saya menaiki wahana ini.

Jelajah

Wahana ini mirp sekali dengan wahana Niagara-gara di Dunia Fantasi. Namun ‘air terjun’ jelajah tersiri dari dua air terjun, dimana yang satu lebih pendek dibanding dari yang 13 meter. menurut saya wahana ini secara pengelolaan lebih baik dibanding Niagara. Perahu lebih stabil dibanding niagara, sehingga tdak bergoyang-goyang saat berjalan.

perosotan jelajah senagai background.. maaf nampang dikit, hehehe

Trans Broadcast Museum

Ini merupakan wahana (menurut saya lebih cocok disebut ruangan) terakhir yang saya kunjungi. karena waktu yang terbatas saya hanya mengelilinginya, dan tidak sempat mencoba untuk mencoba menjadi presenter investigasi. Di museum ini, kita bisa melihat proses-proses terkait broadcasting, mencoba menjadi peserta kuis, menjadi pengisi suara (dubber), dan menjadi presenter.

Plus-Minus Trans Studio Bandung :

Secara garis besar, Trans Studio ini cukup menyenangkan, tapi saya merasa cukup mengunjunginya sekali saja. Plus minus dari Trans Studio ini :

Plus :

  • Mas-mas nya ganteng-ganteng banget. Lumayan nih buat refreshing mata, hehehehhe. Keliatannya sih untuk kerja disini harus punya modal tampang diatas rata-rata.. heheheheh :P
  • Karyawan disini ramah-ramah dan sangat talkative
  • Adanya yamaha coaster
Minus :
  • Diskrimanasi yang tidak adil antara tiket VIP dan reguler
  • Tidak konsistennya peraturan VIP Access. Dikatakan bahwa jam 9 sudah ditutup untuk VIP access, namun selepas jam 9 (sebelum wahana ditutup) pengguna VIP access masih bisa masuk.
  • Kurang koordinasi saat ada acara live di Trans Studio. Saat saya mengunjungi ada acara live di trans studio tepat didepan wahana Bolang, orang-orang yang mengantre di wahana Bolang sempat terdesak-desak sampai ada seorang bapak (pengunjung) marah-marah karena situasi tidak terkontrol. Dan pihak Trans tetap melanjutkan acara. zzzzz
Tips n Trick
Terakhir, saya akan memberi tips sedikit jika ada yang mau ke Trans Studio (mau dilakuin boleh, ga juga gapapa, :D )
  • Beli VIP Access dari awal ——-> Jika merasa tidak buang-buang uang dan siap dikatain sama pengunjung reguler di dalam hati, hehehehe
  • Jika memutuskan unutk membeli tiket reguler, datang pagi-pagi sekali, tapi tetap ada di situ hingga trans studio selesai beroperasi, karena wahana-wahana mulai sepi selepas maghrib.
  • Naiki wahana-wahana yang turnovernya cukup cepat terlebih dahulu, seperti yamaha coaster, giant swing, dan vertigo.
  • jangan membawa makanan atau minuman karena akan dirampas di pintu masuk
  • Pakai baju yang nyaman
Yapp, sekian review Trans Studio dari saya.. Semoga cukup membantu sebagai referensi sebelum pergi kesana. untuk foto-foto lebih lengkpnya bisa dilihat di sini

After The Honeymoon (review)

hello folks!

mumpung lagi bulan puasa, dibanding tidur melulu lebih baik baca buku! saya mau cerita tentang buku yang saya baca ya..

After The Honeymoon by Ollie. Saya tertarik beli novel terbitan GagasMedia ini, gara-gara covernya yang menarik. Terus dari judulnya juga sepertinya bukan novel teenlit yang udah bukan jamannya lagi buat saya baca (soalnya udah ga nyambung, hee hee). Tokoh sentral dari novel ini adalah Barra dan Ata, yang baru saja menikah dan pulang dari honeymoon mereka yang of course, feels like heaven. tapi.. drama baru dimulai seusai pesta.

saya ga bakal nyeritain isi dari buku ini ya.. karena saya yakin masih banyak reviewers lain yang bisa menceritakan jauh lebih baik daripada saya. :) Saya cuma mau nyeritain apa yang saya cerna dan dapat dari novel ini. Saya baca novel ini juga gara2 penasaran, soalnya sampai sekarang saya termasuk dalam daftar wanita-wanita takut komitmen :D .Saya masih berfikir pernikahan itu rumit, bukan sekedar membuat pesta perkawinan yang megah sesuai impian, bangun pagi melihat orang yang paling kamu cintai dan itu sudah cukup membuat kamu happy, atau melakukan kewajiban suami istri, punya anak, nyekolahin anak, liat anak menikah. dan selesai. I Love you till death do us apart. Saya tidak melihat pernikahan dari perspektif seperti itu. Dan hopefully, novel ini juga. novel ini jauh melihat pernikahan dari sisi realitasnya (yang tentunya gak lebay, dan gak dibuat-buat). Novel ini berhasil membuat saya tersadar kalau yang saya pikirkan selama ini, masih belum terlalu dalam, dan bahkan yang saya pikirkan selama ini tidak seburuk kenyataannya. Banyak hal yang harus benar-benar dipikirkan, mulai dari masalah financial, seperti motto “uangmu uangku, uangku..uangmu juga ga ya?” hehehehe. Atau apa yang harus dilakukan jika salah satu pasangan kamu karirnya melesat,dan pasangan lainnya biasa-biasa aja, dan bagaimana harus berperan ganda sebagai ibu dari anak-anak, juga sekaligus istri yang tetap passionate terhadap pasangannya. Dan yang sedikit berlebihan nih,tapi mungkin terjadi adalah campurtangan orangtua dari si pasangan. Bukankah orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya?

Well, kesimpulan yang saya tangkep dari novel ini adalah: marriage is a big journey. Di dalam perjalanan itu, kamu tahu mana yang benar mana yang salah, jangan pernah lari dari masalah. Dan yang terpenting nih, buat kita yang masih muda muda belia, hee hee :p gak peduli usia berapapun kamu mau menikah, atau memutuskan untuk tidak menikah, hal itu harus benar-benar dipikirkan matang-matang! Yeah, walaupun saya masih muda banget gitu ya, (:p) ga ada salahnya sedikit memikirkan tentang masa depan saya, kan? karena esok adalah cerminan dari hari ini,bukan?

pada akhirnya, saya cuma mau bilang HAPPY READING,folks! bersiap-siap sedijadi metal (MEllow toTAL) yaa! hee hee :)

stalker

I really like seeing people’s wall to wall. even in the end it made me full of jealousy,hatred,and sadness. :(

just a couple of minutes ago I post it on my tumblr. I ever post about how i heart facebook so much, for making people met, and made them a couple. but sometimes,this thing make me want to know more, about what people think or feel on their facebook, latest gossip, or even people’s wall to wall. Isn’t it such an irony? people write down about their life on facebook (including me), so the others could know about what they’re in to. But i like it, seeing people’s wall to wall. really like it a lot. I think this kind of activity is just a fun to do, for killing the time.

I used to think that way.

Not until, I found something about I don’t want to know, and it hurts me so much.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 324 other followers